PT SOLID GOLD BERJANGKA – Selama musim liburan Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah, Gedung Lawang Sewu di Semarang, Jawa Tengah, menjadi daya tarik pemudik. Mereka datang untuk berwisata dan melepas penat di bangunan bekas peninggalan Kolonial Belanda ini.

Tercatat, dari tanggal 6-10 Juli 2016, pengunjung Lawang Sewu mencapai 38.078 orang. Lonjakan pengunjung Lawang Sewu sudah terlihat sejak diawali masa mudik Lebaran pada Senin (4/7).

BACA JUGA : TAMAN BATU SUKABUMI

Meski demikian, kepadatan pengunjung baru terlihat pada hari pertama Idul Fitri yakni Rabu (6/7) sebanyak 3.213 orang. Angka pengunjung meningkat dua kali lipat pada hari kedua Idul Fitri sebanyak 7.870 orang, dan keesokan harinya Jumat (8/7) mencapai 9.105 orang, Sabtu (9/7) 9.513 orang, dan Minggu (10/7)sebanyak 8.377 orang.

PT Solid Gold Berjangka – Kebanyakan pengunjung yang datang ke Lawang Sewu adalah pemudik dari Jakarta, Bandung, Surabaya, dan beberapa kota di Sumatra. Mereka datang bersama keluarga setelah sempat bersilaturahmi dengan keluarga dan saudara.

Harga tiket masuk yang tergolong murah, Rp10 ribu untuk dewasa dan Rp5 ribu untuk anak, membuat pengunjung datang kembali mengajak saudara atau temannya yang lain.

“Kami dari Bandung, mampir Lawang Sewu untuk wisata. Cukup indah bangunannya, apalagi sejarahnya yang cukup heroik,” kata Agustin, salah satu pengunjung.

BACA JUGA : LAUT “TERBELAH DUA” DI SELATAN BIMA

Manajer Museum PT Kereta Api Sapto Harsoyo menjelaskan, Lawang Sewu saat ini sudah termasuk ikon destinasi wisata yang dimiliki Kota Semarang. Bahkan cerita mistis atau horor yang dulu pernah melekat di Lawang Sewu kini sudah hilang berganti cerita keindahan arsitektur bangunan berikut sejarahnya.

Untuk menghibur pengunjung, pihak pengelola menyajikan hiburan musik keroncong dan wisata kuliner di halaman tengah Lawang Sewu.

“Lawang Sewu sekarang memang tempat wisata, bukan lagi bangunan angker. PT Kereta Api merawat dan mengelola dengan menjaga keaslian dan keutuhan bangunan. Ini bangunan peninggalan Belanda yang tersohor dan sudah dinyatakan menjadi warisan budaya cagar alam atau herritage dunia”, tutur Sapto.

BACA JUGA : GOA LIANG KAMOI, BUTON

Sapto menambahkan, pendapatan dari tiket masuk Lawang Sewu digunakan kembali untuk kegiatan pemeliharaan, karena perawatan dan pemeliharaan Lawang Sewu tidaklah murah.

Lawang Sewu merupakan kantor pertama perkeretaapian di Indonesia, mulai bersolek dan berbenah tahun 2003. Sebelumnya, hampir 16 tahun bangunan yang menjadi saksi bisu peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang tahun 1945 ini dibiarkan mangkrak tak terawat hingga dikenal menjadi bangunan angker.

(Prz – PT Solid Gold Berjangka)

Enter Your Mail Address