Solid Gold – Menaker: THR Paling Telat Dibayar H-7 Lebaran

Solid Gold – Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri menegaskan, pengusaha mesti membayarkan tunjangan hari raya (THR) kepada pekerja paling telat seminggu sebelum Lebaran. Pembayaran THR ini mengacu Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

“Pokoknya intinya H-7 (Lebaran),” kata dia usai peresmian Social Security (SS) Tower di Kuningan Jakarta, Selasa (30/5/2017).

Hanif menuturkan, dalam peraturan tersebut diatur besaran pembayaran THR. Pekerja atau buruh dengan masa kerja 12 bulan secara terus-menerus atau lebih diberikan satu bulan upah.

Sementara, untuk pekerja atau buruh yang mempunyai masa kerja sebulan secara terus-menerus tapi kurang dari 12 bulan maka diberikan secara proporsional sesuai masa kerja. Adapun perhitungannya, masa kerja dibagi 12 bulan, kemudian dikali satu bulan upah.

“Jadi kalau ini proporsional kalau misalnya di atas 12 bulan sekali setahun gaji. Kalau misalnya kurang dari satu tahun akan proporsional sesuai masa kerjanya,” jelas dia.

Hanif menegaskan, THR merupakan hak bagi pekerja. Sebab itu, pengusaha mesti membayarkan THR.

“Karena ini hak dari pekerja maka harus diberikan, kalau hak nggak usah diminta,” tandas dia.

Solid Gold

Baca juga “Harga Bawang Putih di Balikpapan Meroket, Bawang Merah Turun”

 

Harga komoditas bawang putih meroket di Balikpapan, Kalimantan Timur. Selama bulan Ramadan ini, harga bawang putih naik menjadi Rp 80 ribu per kilogram dari sebelumnya berkisar Rp 40 ribu per kilogram.

“Harga bawang putih yang mahal saat ini,” kata salah seorang pedagang sayuran Balikpapan, Suprapti, Rabu (31/5/2017).

Suprapti mengatakan, harga bawang putih sudah mulai merangkak naik jelang Ramadan lalu. Para pedagang kesulitan memperoleh pasokannya dari pedagang besar yang berasal dari Sulawesi dan Jawa.

Komoditas bawang putih, menurut Suprapti, relatif gampang diperoleh dari pedagang besar yang mengimpor dari Tiongkok. Ada informasi kegagalan panen petani bawang putih di China akibat faktor cuaca.

Selama ini, Indonesia masih mengimpor bawang putih dari luar sekitar 95 persen. Pasalnya, petani dalam negeri hanya mampu menyediakan 5 persen kebutuhan dalam negeri.

Menurutnya, terhambatnya pasokan bawang putih dari Surabaya ke Kalimantan disebabkan kapal pengangkut bawang putih ke Kota Balikpapan terbakar dan tenggelam. “Katanya sih ada kapal yang mengangkut bawang putih ke Balikpapan terbakar dan tenggelam. Katanya seperti itu. Jadi, stok terbatas dan harga naik,” ujarnya.

Imbasnya, pedagang sayuran Balikpapan tidak mampu membeli pasokan bawang putih yang harganya melambung. Masyarakat juga kini tidak lagi beli dalam jumlah yang banyak.

“Kalau dulu waktu harga masih stabil biasanya saya ambil itu satu karung sampe 30 kg setiap hari, sekarang paling banyak 10 kg sampe 15 kg,” ujarnya.

Sebaliknya, harga bawang merah turun drastis mencapai Rp 25 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 50 ribu per kilogram. Pedagang Balikpapan kelebihan pasokan bawang merah untuk diperdagangkan ke masyarakat.

“Memang justru beda ya, harganya kebalik bawang putih dan bawang merah,” tuturnya.

Seorang ibu rumah tangga Balikpapan, Nurhayatie mengatakan, komoditas bawang putih terbilang harganya jarang melonjak di kotanya. Sebelumnya, harga sayuran yang melonjak adalah cabai merah segar yang menyentuh Rp 200 ribu per kilogramnya.

Naik turun harga komoditas itu disebabkan pasokan mayoritas sayuran berasal dari luar Kaltim, khususnya dari Sulawesi dan Jawa, yang didatangkan menggunakan transportasi laut. Jika petani Sulawesi dan Jawa alami gagal panen, harga-harga komoditas pangan di Balikpapan akan terdampak langsung.

Solid Gold

Enter Your Mail Address