PT SOLID GOLD BERJANGKA

PT Solid Gold Berjangka – Imunisasi merupakan salah satu cara mencegah penyakit berat pada anak. Infeksi yg bisa dicegah dgn imunisasi antara lain polio, campak, difteri, tuberkulosis, dan hepatitis B.

Vaksin dibuat dgn melemahkan virus atau bakteri, namun dalam bentuk yg tidak membahayakan tubuh. Malah, bagian dari virus atau bakteri yg sudah dilemahkan itu akan membantu tubuh membentuk antibodi yg membuat anak menjadi kebal terhadap penyakit tertentu.

Pada kasus peredaran vaksin palsu yg baru diungkap oleh kepolisian, diduga para tersangka pemalsuan vaksin mencampur cairan infus dgn antibiotik atau vaksin tetanus.

Baca Juga : Anak Sebelum Masuk Sekolah

Menurut ahli vaksin, dr.Dirga Sakti Rambe Msc-VPCD, ada dua efek negatif pemberian vaksin palsu pada bayi.

“Yg pertama dampak keamanan vaksin palsu itu & yg kedua dampak proteksi atau kekebalan, yakni bayi yg diberi vaksin palsu tentu tidak memiliki proteksi atau kekebalan,” kata Rambe seperti dikutip Antara.

Ahli vaksin dari Universitas Siena, Italia itu, menambahkan, terkait dampak keamanan, kata dia, tergantung dari larutan yg dicampurkan pembuat vaksin palsu.

Saat ini, kandungan yg terdapat dalam vaksin palsu masih diteliti lebih lanjut oleh Pusat Laboratorium Forensik Kepolisian Indonesia & Badan POM.

“Yg jelas proses pembuatan vaksin palsu tentu tidak steril bisa tercemar virus, bakteri, & lain sebagainya yg tidak baik bagi kesehatan,” katanya.

Dia menambahkan, kemungkinan jangka pendek yg dapat terjadi adalah timbulnya infeksi.

“Infeksi bisa bersifat ringan bisa juga infeksi sistemik. Infeksi berat bisa berupa demam tinggi, laju nadi meningkat, laju pernafasan meningkat, leukosit meningkat, anak sulit makan minum hingga terjadinya penurunan kesadaran,” katanya.

Baca Juga : Musik dan 8 Manfaatnya

Menurut Kementrian Kesehatan RI dalam twitnya melalui akun @KemenkesRI, karena vaksin palsu dibuat dgn cara yg tidak baik, maka kemungkinan timbulkan infeksi.

Gejala infeksi ini bisa dilihat tidak lama setelah diimunisasikan. Jadi kalau sudah sekian lama tidak mengalami gejala infeksi setelah imunisasi bisa dipastikan aman.

Bisa jadi anak Anda bukan diimunisasi dgn vaksin palsu, tetapi memang dgn vaksin asli.

Sementara itu, untuk dampak proteksi tujuan vaksinasi tidak tercapai, yaitu membentuk kekebalan tubuh sebelum seseorang jatuh sakit.

Misalnya, seorang anak mendapat vaksinasi Hepatitis B sebanyak 3 kali. Setelah terpenuhi, anak ini kebal bila kelak terpapar oleh virus Hepatitis B. Ia sudah kebal tanpa harus jatuh sakit.

Sementara anak yg tidak divaksinasi, harus sakit dulu baru dapat memiliki kekebalan. Bila ternyata anak ini mendapatkan vaksin yg palsu, tentu kekebalan itu tidak pernah ada.

(Prz – PT Solid Gold Berjangka)

Enter Your Mail Address