PT Solid Gold Berjangka , JAKARTA – Harga emas berhasil mendapatkan katalis positif untuk mengilap dan menetap di zona hijau setelah sulit keluar dari jeratan aksi jual dalam beberapa perdagangan terakhir.
Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (11/3/2021) hingga pukul 17.32 WIB, harga emas di pasar spot menguat 0,52 persen ke posisi US$1.735,77 per troy ounce.
Sementara itu, harga emas berjangka untuk kontrak April 2021 di bursa Comex naik 0,69 persen ke posisi US$1.733,6 per troy ounce.
Sepanjang tahun berjalan 2021, harga emas masih terkoreksi hingga 8,77 persen. Tim riset dan analis Monex Investindo Futures mengatakan bahwa harga emas berhasil bergerak lebih tinggi karena pasar merespons rilis data inflasi konsumen AS yang stabil.Rilis data itu memangkas harapan kenaikan suku bunga acuan AS dan menjadi pemicu aksi jual dolar AS.
Dalam perdagangan yang sama, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak melemah 0,28 persen ke posisi 91,59.
“Harga emas berpotensi dibeli menguji level resisten US$1.738 per troy ounce dan selanjutnya ke posisi US$1.745 per troy ounce, selama emas berhasil bertahan di atas level support US$1.709 per troy ounce,” tulis tim riset dan analis Monex Investindo Futures seperti dikutip dari publikasi risetnya, Kamis (11/3/2021).
Namun, jika emas bergerak lebih rendah dari level support tersebut, maka harga emas berpotensi menguji level support selanjutnya di posisi US$1.703 per troy ounce. Di sisi lain, Manajer Portofolio Global Allocation Fund BlackRock Russ Koesterich memperingatkan risiko untuk mengumpulkan emas saat ini dan relevansinya sebagai aset lindung nilai. Dia menjelaskan bahwa emas telah melemah pada 2021 karena sentimen prospek pemulihan ekonomi global dan lonjakan imbal hasil obligasi AS. Oleh karena itu, Black Rock menilai saat ini emas tidak berfungsi dengan baik sebagai lindung nilai terhadap pergerakan saham atau risiko inflasi, meskipun itu terhadap dolar AS. Menurut dia, kemampuan emas untuk melindungi nilai terhadap inflasi agak dibesar-besarkan, meskipun emas masih menjadi penyimpan nilai yang wajar dalam jangka yang sangat panjang.
“Jika tidak ada pandangan yang kuat tentang penurunan dolar, saya akan memilih untuk hanya memiliki lebih sedikit emas, dan bagi para investor yang masih mencari lindung nilai, satu kata dari kami yaitu uang tunai,” ujar Koesterich dikutip dari Bloomberg, Kamis (11/3/2021).

Enter Your Mail Address